Dampak Jahat Garam Bila Menumpuk Di Dalam Tubuh


FUNESIA.NET-Orang Indonesia sudah akrab dengan petitih 'Bagai sayur kurang garam' untuk menggambarkan sesuatu yang kurang pas. Persoalan pas atau tidak pas ini juga begitu relevan dengan konsumsi garam (NaCl) pada tubuh seseorang yang bisa berakibat fatal. Tubuh yang terlalu banyak menimbun garam bisa berimbas negatif bagi tubuh.

Apa yang terjadi pada tubuh seseorang yang kelebihan asupan garam?

Dalam catatan Harvard School of Public Health (HSPH), masalah pertama bermula dari ginjal yang tak bisa mengontrol limpahan sodium yang berlebih di aliran darah. Bersamaan dengan meningkatnya kadar sodium, tubuh hanya mengandalkan diri pada air untuk melarutkannya. Kondisi ini meningkatkan jumlah cairan di sekitar sel-sel tubuh maupun volume darah yang mengalir di dari kepala hingga kaki. Kerja jantung makin berat. Pembuluh darah otomatis ikut tertekan sebab menerima limpahan darah yang tak hanya besar, tapi juga mengental.

Bayangkan pembuluh darah manusia adalah selang air. Dalam kondisi normal, selang tersebut mengalirkan air bersih yang biasa dipakai untuk mandi. Namun bagi seseorang dengan kadar sodium yang terlalu tinggi di dalam darah, penggambarannya berganti menjadi selang yang sedikit-sedikit mampat akibat harus mengalirkan air bercampur lumpur: kotor, kental hingga tersumbat.

Darah yang mengandung kadar sodium tinggi akan membawa risiko hipertensi bagi seseorang. Risiko bawaan selanjutnya tak mengejutkan lagi: serangan jantung, gagal jantung, hingga stroke. Hipertensi bertanggung jawab untuk dua pertiga penyakit stroke dan setengah bagi serangan jantung di dunia. Di Cina penyakit tekanan darah tinggi menjadi penyakit tak menular (PTM) nomor satu penyebab lebih dari satu juta kematian setiap tahun.

Selain di Cina,  penyakit kardiovaskular tercatat sebagai penyebab kematian nomor satu di dunia. America Heart Association menyebutkan bahwa hampir setiap satu dari tiga orang yang meninggal disebabkan oleh penyakit kardiovaskular. Penyakit ini menyebabkan kematian lebih banyak dibandingkan kanker dan kecelakaan, bahkan jika angka keduanya digabungkan.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan penyakit kardiovaskular sebagai penyakit yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah. Jenis-jenis penyakit kardiovaskular pada umumnya adalah penyakit jantung iskemik, stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi, penyakit jantung rematik, pembesaran aorta, kardiomiopati, atrial fibrilasi, penyakit jantung bawaan, endokarditis, dan penyakit arteri perifer.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Ova Emilia, dalam sebuah simposium kardiologi bertemakan "Atrial Fibrilation Awareness" digelar di Rumah Sakit UGM, Jumat (3/3/2017), mengatakan hingga saat ini penyakit kardiovaskular masih menjadi penyakit tidak menular utama penyebab kematian di Indonesia.  Penyakit jantung koroner yang merupakan salah satu jenis penyakit radiovaskular menjadi penyebab 26,4 persen kematian di Indonesia.

“Angka ini lebih tinggi dari angka kematian akibat kanker,” imbuhnya.

Selain penyakit kardiovaskular standar, tekanan darah yang tinggi akibat kandungan sodium juga bisa menyebabkan kanker perut. World Cancer Research Fund maupun American Institute for Cancer Research berpendapat bahwa garam, termasuk juga makanan yang mengandung garam maupun makanan asin lain, adalah penyebab kuat untuk serangan kanker perut.





Risiko non menular lain yaitu osteoporosis alias tulang rapuh. Jumlah kalsium, zat penguat tulang, berkurang saat buang air berkali-kali akibat banyaknya asupan garam yang dikonsumsi. Tubuh memiliki mekanisme sendiri untuk mengatur pembagian kadar kalsium dalam tulang maupun darah. Jika jumlah kalsium dalam darah berkurang drastis, maka tubuh akan otomatis mengambil penggantinya dari kalsium yang terdapat pada tulang. 

Selain mengorbankan kalsium, zat lain yang kalah jumlah bila tubuh kelebihan sodium adalah potasium. Kadar sodium maupun potasium memiliki efek yang tak sepele bagi kesehatan jantung. Potasium, yang banyak dikandung pisang atau air kelapa muda dapat membantu merelaksasi pembuluh darah dan mengeluarkan sodium sehingga membantu menurunkan tekanan darah. Sifat ini berlawanan dengan yang dimiliki sodium. 

Tubuh seseorang membutuhkan lebih banyak potasium ketimbang sodium. Namun, orang-orang di banyak negara melakukan hal yang sebaliknya. Di Amerika Serikat, misalnya, warganya mengonsumsi 3.300 miligram sodium per hari, sebanyaj 75 persen datang dari makanan olahan. Sementara itu konsumsi potasium harian mereka hanya 2.900 miligram. 

Sebuah penelitian yang pernah dipublikasikan di Archives of Internal Medicine mengungkap bukti bahwa orang yang mengonsumsi lebih banyak sodium dibandingkan potasium akan memiliki risiko lebih besar terkena serangan jantung atau penyakit kardiovaskular lainnya. 

Bagian penelitian lain menunjukkan bahwa responden dengan kadar sodium tertinggi memiliki risiko kematian 20 persen lebih besar dibanding responden dengan sodium terendah. Sedangkan responden dengan kadar potasium tertinggi memiliki risiko kematian 20 persen lebih rendah dari responden dengan potasium terendah. Kadar zat-zat ini menjadi sorotan pemerintah di banyak negara termasuk Indonesia karena risiko buruk bagi kesehatan.

Orang Indonesia Kelebihan Sodium

Mengacu pada Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)  2013, sebanyak 26,2 persen orang Indonesia mengonsumsi garam secara berlebihan. Persentase ini naik dari angka 24,5 persen pada Riskesdas 2009. Batas konsumsi garam yang disarankan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per orang per hari adalah 2.000 miligram sodium atau 5 gram garam. Jumlah ini setara dengan satu sendok teh butiran garam. 

Data yang lebih terperinci sekaligus mengejutkan ada dalam riset bertajuk “Asupan Gula, Garam dan Lemak di Indonesia” dari para peniliti Institut Gizi Indonesia, Litbang Kemenkes, dan Poltekes Kemenkes Jakarta II. Riset yang dipublikasikan pada Jurnal Gizi Indonesia dua tahun lalu itu memaparkan bahwa asupan garam penduduk Indonesia di 2014 sangat memprihatinkan sebab lebih dari setengahnya atau 53 persen mengonsumsi garam lebih dari 5 gram per hari. Sementara itu sebanyak 18,9 persen mengonsumsi garam sekitar 10-30 gram per hari. 

Laki-laki cenderung mengonsumsi garam lebih banyak dari perempuan, demikian pula penduduk kota lebih banyak mengonsumsi garam ketimbang penduduk desa. Sementara itu menurut kelompok umur, kelompok usia 13-18 tahun cenderung mengonsumsi garam lebih banyak daripada kelompok umur lainnya. Hanya kelompok penduduk usia 0-4 tahun saja yang konsumsi garamnya bisa kurang dari 5 gram per hari.

Bila mengacu dari wilayah, masyarakat dengan konsumsi garam tertinggi ada di Nusa Tenggara Barat yakni sebesar 8 gram per hari. Berturut-turut di bawahnya dalam posisi lima besar ada DKI Jakarta, Bangka Belitung, Banten, dan Sulawesi Tenggara. Sedangkan provinsi yang konsumsi garamnya bisa bertahan di level kurang dari 5 gram per hari antara lain Papua, Gorontalo, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku. Konsumsi rata-rata garam secara nasional juga tak sesuai standar, yakni mencapai 6,7 gram per hari.






Makanan asin atau yang mengandung garam memang menggoda, tapi demi investasi kesehatan di masa depan, maka keputusan mengurangi konsumsi garam sebuah langkah tepat. Seseorang juga disarankan mempertimbangkan  asupan potasium yang biasa terkandung dalam buah pisang, air kelapa muda, ubi jalar, yogurt, dan kacang panjang. Namun, sesuatu yang berlebihan pun tak baik, maka prinsip mengonsumsi makanan yang berimbang dan beragam jadi kuncinya. 


Sumber : tirto.id



Jangan biarkan teman kamu kudet & kuper, bagikan info ini

Loading...