PILGUB DI DKI JAKARTA DIPREDIKSI AKAN DUA PUTARAN


KABARMANUSIA-Kursi gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta akan diperebutkan oleh tiga pasangan calon. Mereka adalah pasangan Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat, pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, dan pasangan Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni.

Menurut pengamat politik Universitas Indonesia Cecep Hidayat, pemilihan kepala daerah DKI Jakarta akan berlangsung dua putaran.


"Amat sukar untuk langsung terpilih dalam satu putaran karena harus mendapatkan suara 30 persen plus satu suara," kata Cecep saat dihubungi CNNIndonesia, Selasa (27/9).

Pasangan Ahok, panggilan Basuki, dan Djarot didukung oleh empat partai, yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai NasDem, Partai Golkar, dan Partai Hanura.


Pasangan Agus dan Sylvia didukung oleh Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional, dan Partai Persatuan Pembangunan.

Sedangkan pasangan Anies dan Sandiaga diusung oleh Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera.

"Dukungan partai tidak merepresentasikan dukungan pemilih. Pendukung partai belum tentu mendukung calon. Apalagi karakteristik pemilih Jakarta itu berubah-ubah dan rasional," katanya.

Untuk itu, menurut Cecep, akan sukar Pilkada DKI Jakarta berlangsung dalam satu putaran.

"Saya kira pasangan Ahok dan Djarot akan maju ke putaran dua. Satu lagi tergantung dari genjotan politik dan momentum yang bisa dimanfaatkan pasangan Agus atau Anies," katanya.


Plus Minus Bakal Calon

Prediksi Pilkada Jakarta akan berlangsung dua putaran tidak lepas dari faktor plus dan minus yang dimiliki bakal calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta.

Menurut Cecep, pasangan Ahok dan Djarot memiliki keunggulan karena merupakan petahana. Mereka memiliki akses dan pengetahuan terhadap sumber daya yang dimilik Jakarta.

"Mereka juga memiliki elektabilitas dan popularitas yang tinggi, saat ini, di Jakarta. Mereka juga memiliki empat mesin partai pendukung yang bisa digerakan, dan tim relawan 'Teman Ahok'," kata Cecep.

Ahok dan Djarot memiliki potensi dan peluang yang besar untuk memenangkan Pilkada DKI Jakarta. Berbagai survei pun memprediksi kemenangan Ahok dan Djarot.

Minus dari pasangan ini adalah gaya komunikasi 'kasar' Ahok yang tidak disukai sebagian masyarakat Jakarta. Pemilih Jakarta yang tidak suka dengan gaya komunikasi ini dapat dengan mudah beralih ke calon lain.

"Minus lain adalah tindakan Ahok yang melakukan penggusuran dan di kasus reklamasi. Masyarakat yang tidak suka atau kepentingannya direnggut akan beralih ke calon lain," katanya.

Sementara terkait masalah primordial dan identitas pribadi pasangan Ahok-Djarot, menurut Cecep tidak akan berpengaruh besar ke pilihan pemilih Jakarta.

"Mereka lebih cenderung memilih calon yang memiliki kedekatan tindakan dan kepentingan, bukan isu-isu identitas dan primordialisme," kata Cecep.

Kemudian, pasangan Anies dan Sandiaga, menurut Cecep, memiliki peluang menjadi antitesis sosok Ahok. Pembawaan Anies yang ramah, dan berpendidikan dapat menjadi kekuatan untuk merebut suara kelompok kelas menengah Jakarta. Lalu, Sandiaga juga memiliki kekuatan dalam sumber daya dalam menggenjot popularitas dan elektabilitas.

"Pasangan ini akan memposisikan diri menjadi antitesis Ahok. Mereka akan menarik masyarakat yang tidak suka dengan kebijakan dan gaya Ahok," katanya.

Namun, pasangan ini juga memiliki minus. Menurut Cecep, walaupun Anies tidak berpartai dan berbaju akademisi, tindakan Anies seperti politisi.

"Anies merapat ke SBY, lalu Jokowi, dan sekarang Prabowo. Apalagi dahulu, Anies secara terang menyerang pribadi Prabowo. Bagi pemilih Jakarta ini menunjukan ketidakkonsistenan. Tidak berbaju partai, tapi mendulang dukungan partai," katanya.

Sandiaga juga disebut beberapa kali dalam kasus dugaan pelanggaran hukum. Nama Sandiaga disebut dalam Panama Papers karena perusahannya diduga menggelapkan pajak, dan dugaan korupsi pelaksanaan proyek PT DGI, serta tindak pidana pencucian uang pembelian saham perdana PT Garuda Indonesia.

Pasangan ketiga adalah Agus dan Sylvia. Pasangan ini merupakan kombinasi laki-laki dan perempuan, muda-tua, serta sipil-militer. Kombinasi ini diharapkan akan menarik dukungan dari semua kalangan.

"Agus memiliki keungulan dari sisi pendidikan, paras yang menarik, sikap yang ramah, dan muda. Agus juga bisa merebut suara kelompok masyarakat muda yang tertarik dengan penampilan, pembawaan, dan pendidikan," kata Cecep.

Sedangkan Sylvia memiliki pengalaman dan pengetahuan kuat mengenai budaya dan sistem birokrasi Jakarta. Sylvia tumbuh dan berkembang di lingkungan birokrasi Jakarta sehingga mengetahui seluk beluk di dalamnya.

"Minusnya, Agus belum memiliki pengalaman politik. Agus adalah representasi SBY. Kelompok tidak suka SBY akan tidak suka dengan Agus. Pasangan ini lima bulan ke depan harus bekerja keras dan jor-joran supaya bisa bersaing," katanya

Sumber : CCN

Jangan biarkan teman kamu kudet & kuper, bagikan info ini

Loading...